WELCOME to MY Blog/ Wilkommen zu Mein Blog

SELAMAT DATANG,,,, WELCOME,,,, WILLKOMMEN,,,,

Monday, September 12, 2011

Penerapan Metode Field Trip

BAB III

Pendahuluan

Pada hakikatnya, pembelajaran bahasa adalah belajar berkomunikasi, mengingat bahasa merupakan sarana komunikasi dalam masyarakat. Untuk dapat berkomunikasi dengan baik, seseorang perlu belajar cara berbahasa yang baik dan benar. Pembelajaran tersebut akan lebih baik manakala dipelajari sejak dini dan berkesinambungan. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa disertakan dalam kurikulum. Hal ini berarti setiap peserta didik dituntut untuk mampu menguasai bahasa yang mereka pelajari terutama bahasa resmi yang dipakai oleh negara yang ditempati peserta didik. Begitu pula di Indonesia, bahasa Jerman menjadi materi pembelajaran yang mulai diterapkan dan diberikan di jenjang pendidikan, mulai dari Sekolah Menengah Atas sampai perDosenan tinggi. Hal itu dilakukan supaya peserta didik mampu menguasai bahasa Indonesia dengan baik dan benar serta mampu menerapkannya dalam kehidupan masyarakat. Menulis sebagai suatu kegiatan berbahasa yang bersifat aktif dan produktif merupakan kemampuan yang menuntut adanya kegiatan encoding yaitu kegiatan untuk menghasilkan atau menyampaikan bahasa kepada pihak lain melalui tulisan. Kegiatan berbahasa yang produktif adalah kegiatan menyampaikan gagasan, pikiran, atau perasaan oleh pihak penutur. Sebenarnya kegiatan produktif terdiri dari dua macam yaitu berbicara dan menulis. Meskipun sama-sama merupakan kegiatan produktif, kegiatan tersebut mempunyai perbedaan yang utama, yaitu pada media dan sarana yang digunakan. Berbicara menggunakan sarana lisan, sedangkan menulis menggunakan sarana tulisan. Di samping itu, berbicara merupakan aktivitas memberi dan menerima bahasa, yaitu menyampaikan gagasan pada lawan bicara pada waktu yang bersamaan menerima gagasan yang disampaikan lawan bicara. Jadi dalam berbicara terjadi komunikasi timbal-balik, hal yang tidak dapat ditemui dalam menulis. Sementara itu, menulis adalah kegiatan menyampaikan gagasan yang tidak dapat secara langsung diterima dan direaksi oleh pihak yang dituju. Aktivitas menulis merupakan salah satu manisfestasi kemampuan (dan keterampilan) berbahasa paling akhir yang dikuasai pembelajar bahasa setelah mendengarkan, membaca, dan berbicara (Nurgiyantoro, 2001: 296 yang dikutip dari Website). Dalam buku yang sama juga dijelaskan apabila dibandingkan dengan keterampilan berbahasa yang lain, kemampuan menulis lebih sulit dikuasai oleh pembelajar bahasa karena kemampuan menulis menghendaki penguasaan berbagai aspek lain di luar bahasa, untuk menghasilkan paragraf atau wacana yang runtut dan padu. Nurgiantoro mengungkapkan bahwa menulis adalah aktivitas mengungkapkan gagasan melalui media bahasa. Batasan yang dibuat Nurgiantoro sangat sederhana, menurutnya menulis hanya sekedar mengungkapkan ide, gagasan, atau pendapat dalam bahasa tulis, lepas dari mudah tidaknya tulisan tersebut dipahami oleh pembaca. Kegiatan menulis, khususnya menulis deskripsi dalam dunia persekolahan termasuk dalam aktivitas pembelajaran yang memprihatinkan. Pada jenjang Mahasiswa kegiatan tersebut diwujudkan dengan standar kompetensi yang berbunyi: Menuangkan informasi dalam berbagai bentuk paragraf (narasi,deskripsi, eksposisi).

Adapun kompetensi dasar berbunyi: Menulis hasil observasi dalam bentuk paragraf deskripsi Selama ini pembelajaran menulis deskripsi dilakukan secara konvensional. Dalam arti Mahasiswa diberi sebuah teori menulis deskripsi kemudian Mahasiswa melihat contoh dan akhirnya Mahasiswa ditugasi untuk membuat paragraf atau wacana deskripsi baik secara langsung atau dengan jalan melanjutkan tulisan yang ada. Kesimpulan tersebut diperkuat dengan adanya fakta bahwa media atau sumber belajar yang variatif tidak dimunculkan oleh Dosen. Sumber belajar di luar Dosen yang dapat dimanfaatkan oleh Mahasiswa yaitu buku Teks dan Media Internet. Oleh karena itu, suasana belajar mengajar tentang keterampilan menulis menjadi membosankan dan Mahasiswa merasa jenuh mengikuti proses pembelajaran tersebut. Selain itu Mahasiswa belum mampu mengidentifikasikan sebuah peristiwa atau pun gambaran yang ada dalam pikiran masing-masing untuk dirangkai ke dalam bentuk tulisan atau dalam kata lain Mahasiswa kurang dapat menggali ide dan gagasan. Padahal Dosen sudah menentukan tema tulisan secara jelas. Fenomena yang saat ini terjadi dalam pembelajaran menulis „Schreibtfertigkeit“ di Program Study bahasa Jerman. Khususnya pada Semester II. Berdasarkan hasil pengamatan peneliti rendahnya keterampilan menulis Mahasiswa, khususnya menulis deskripsi disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya:

1) Adanya minat dan motivasi Mahasiswa yang masih rendah,

2) Kurangnya pembiasaan terhadap tradisi menulis menyebabkan Mahasiswa menjadi terbebani apabila mendapatkan tugas untuk menulis,

3) Sebagian Mahasiswa membutuhkan waktu yang cukup lama untuk dapat menuangkan ide dan gagasannya,

4) Mahasiswa belum mampu dalam menuangkan ide/gagasan dengan baik,

5) Mahasiswa kurang bisa mengembangkan bahasa,

6) hasil tulisan Mahasiswa belum mencapai ketuntasan belajar.

Melihat kondisi demikian, akhirnya peneliti berusaha memberikan solusi alternatif dalam pembelajaran menulis supaya segala permasalahan serta kendala yang terdapat pada Mahasiswa maupun Dosen dapat teratasi. Akhirnya setelah adanya diskusi antara pihak peneliti dan Dosen yang mengampu mata kuliah „Schreibtfertigekit“ tentang permasalah dalam menulis deskripsi perlu dilakukan. Penggunaan metode yang tepat agar dapat memperbaiki dan meningkatkan keterampilan Mahasiswa dalam menulis. Selain itu cara mengajar Dosen harus menggunakan teknik pembelajaran yang bervariasi secara kreatif. Merujuk pada segala permasalahan di atas, Dosen bersama peneliti menbuat berbagai solusi dalam pembelajaran menulis salah satunya pada penggunaan metode. Penelitian tentang peningkatan keterampilan menulis dengan menggunakan metode field trip dilakukan karena melihat kondisi Mahasiswa dalam menerima materi menulis belum sesuai dengan harapan. Selain itu, peneliti beranggapan metode pengajaran dan pembelajaran yang digunakan oleh Dosen dengan metode ceramah dan media contoh-contoh belum mengalami perubahan terhadap hasil pekerjaan Mahasiswa dalam menulis. Masalah lain yang muncul Mahasiswa akan berpersepsi negativ terhadap materi menulis, karena metode dan media yang digunakan terkesan membosankan dan membingungkan.

Field trip merupakan pesiar (ekskursi) yang digunakan oleh para peserta didik untuk melengkapi pengalaman belajar tertentu dan merupakan bagian integral dari kurikulum sekolah. Dengan field trip sebagai metode belajar mengajar anak didik dibawah bimbingan Dosen mengunjungi tempat-tempat tertentu dengan maksud untuk belajar. Hal ini sangat sesuai untuk

meningkatkan pembelajaran menulis deskripsi karena dengan mendekatkan objek belajar dengan Mahasiswa akan lebih memudahkan Mahasiswa untuk menuangkan ide-ide ke dalam tulisan. Adapun menurut Roestriyah (2001: 85 yang diktuip dari sumber internet) tujuan teknik ini adalah dengan melaksanakan field trip diharapkan Mahasiswa dapat memperoleh pengalaman langsung dari objek yang dilihatnya, dapat turut menghayati tugas pekerjaan milik seseorang serta dapat bertanggung jawab. Mungkin dengan jalan demikian mereka mampu memecahkan persoalan yang dihadapi dalam pembelajaran. Selain itu dengan metode ini akan membuat Mahasiswa lebih nyaman dan senang ketika pembelajaran berlangsung dan dapat melatih Mahasiswa untuk menggunakan waktu secara efektif. Metode field trip digunakan sebagai salah satu sarana dalam memilih judul sebagai bahan untuk penelitian “Penerapan Metode Field Trip Untuk Meningkatkan Kemampuan Menulis Deskripsi (Paraphrase) Pada Mahasiswa Semester II Bahasa Jerman yang mengambil mata kuliah „Schreibtfertigkeit II“

1. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian dalam latar belakang masalah di atas, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

1. Apakah penerapan metode field trip dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran menulis deskripsi Mahasiswa Semester II yang mengambil mata kuliah “Schreibtfertigkeit”?

2. Apakah penerapan metode field trip dapat meningkatkan kualitas hasil pembelajaran menulis deskripsi Mahasiswa Semester II yang mengambil mata kuliah “Schreibtfertigkeit”?

2. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:

a. Untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran menulis deskripsi Mahasiswa

b. Mahasiswa Semester II yang mengambil mata kuliah “Schreibtfertigkeit” melalui penerapan metode field trip.

c. Untuk meningkatkan kualitas hasil pembelajaran menulis deskripsi Mahasiswa

d. Mahasiswa Semester II yang mengambil mata kuliah “Schreibtfertigkeit” melalui penerapan metode field trip.

3. Indikator Keberhasilan

Indikator keberhasilan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Kualitas pembelajaran menulis Mahasiswa, ditandai dengan timbulnya keaktifan Mahasiswa (semangat, motivasi, minat) dalam mengikuti pembelajaran keterampilan menulis. Keaktifan Mahasiswa dalam pembelajaran meliputi aktif bertanya maupun memberikan tanggapan, aktif mengerjakan tugas serta menjawab pertanyaan Dosen.

b. Keterampilan menulis Mahasiswa ditandai dengan:

ð Meningkatnya kemampuan Mahasiswa dalam menghasilkan kosa kata yang bervariasi dalam tulisan.

ð Mampu mengorganisasikan gagasan dengan baik.

ð Munculnya kreatifitas dan imajinasi Mahasiswa dalam menyusun kalimat-kalimat menjadi sebuah tulisan yang baik.

ð Ada kesesuaian antara isi tulisan dengan objek yang diamati.

c. Ketuntasan hasil belajar ditandai dengan hasil pekerjaan Mahasiswa yang telah mencapai angka 70 ke atas.

4. Manfaat Penelitian

1. Manfaat teoritis

Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai:

a. Bahan kajian dalam meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran menulis deskripsi.

b. Memberikan sumbangan wawasan dan pengetahuan mengenai pembelajaran menulis deskripsi.

2. Manfaat praktis

a. Bagi Mahasiswa

1. Memberi kemudahan bagi Mahasiswa dalam menemukan ide tulisan.

2. Menjadikan suasana pembelajaran yang menyenangkan bagi Mahasiswa.

3. Meningkatkan kemampuan menulis deskripsi Mahasiswa.

b. Bagi Dosen

1. Mengatasi kesulitan pembelajaran menulis deskripsi yang dialami Dosen.

2. Menjadi acuan bagi Dosen untuk membuat pembelajaran menulis deskripsi

lebih kreatif dan inovatif.

c. Bagi peneliti

1. Mengaplikasikan teori yang diperoleh.

2. Menambah pengalaman peneliti dalam penelitian yang terkait dengan

pembelajaran menulis.

BAB II

Pembahasan

A) Tinjauan Pustaka

Tinjauan pustaka adalah pemaparan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti lainnya atau para ahli. Dengan adanya tinjauan pustaka ini penelitian seseorang dapat diketahui aslinya. Tinjauan pustaka akan dikaji melalui telaah pustaka yang berkaitan dengan penelitian ini. Hans Seba dalam penelitiannya yang berjudul “Penerapan Metode Field Trip Untuk Meningkatkan Kemampuan Menulis Deskripsi (Paraphrase) Pada Mahasiswa Semester II Bahasa Jerman yang mengambil mata kuliah „Schreibtfertigkeit II“

B) Landasan Teori

1. Pengertian dan Tujuan Menulis

Menulis merupakan salah satu dari empat keterampilan berbahasa. Menulis bukanlah hal yang sulit namun tidak juga dikatakan mudah. Menulis dikatakan bukan hal yang sulit bila menulis hanya diartikan sebagai aktivitas mengungkapkan gagasan melalui lambang-lambang grafis tanpa memperhatikan unsur penulisan dan unsur di luar penulisan seperti pembaca. Sementara itu, sebagian besar orang berpendapat bahwa menulis bukan hal yang mudah sebab diperlukan banyak bekal bagi seseorang untuk keterampilan menulis. Nurgiantoro mengungkapkan bahwa menulis adalah aktivitas mengungkapkan gagasan melalui media bahasa. Batasan yang dibuat Nurgiantoro sangat sederhana, menurutnya menulis hanya sekedar mengungkapkan ide, gagasan, atau pendapat dalam bahasa tulis, lepas dari mudah tidaknya tulisan tersebut dipahami oleh pembaca. Pendapat senada disampaikan oleh Semi menyatakan menulis sebagai tindakan pemindahan pikiran atau perasaan dalam bahasa tulis dengan menggunakan lambang-lambang atau grafem. Berbeda dari kedua pakar di atas, Gie berpendapat bahwa menulis diistilahkan mengarang yaitu segenap rangkaian kegiatan seseorang mengungkapkan gagasan dan menyampaikannya melalui bahasa tulis kepada masyarakat pembaca untuk dipahami. Dengan mencermati pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa menulis tidak hanya mengungkapkan gagasan melalui media bahasa tulis saja tetapi juga meramu tulisan tersebut agar dapat dipahami oleh pembaca. Pendapat senada disampaikan oleh Tarigan yang menyatakan bahwa menulis adalah menurunkan atau melukiskan lambang- lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang sehingga orang lain dapat membaca lambang-lambang grafik tersebut kalau mereka memahami bahasa dan gambar grafik yang sama, lambang-lambang grafik yang dimaksud oleh Tarigan adalah tulisan atau tulisan yang disertai gambar-gambar dan simbol-simbol. Dari pendapat di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa setidaknya ada tiga hal yang ada dalam aktivitas menulis yaitu adanya ide atau gagasan yang melandasi seseorang untuk menulis, adanya media berupa bahasa tulis, dan adanya tujuan menjadikan pembaca memahami pesan atau informasi yang disampaikan oleh penulis. Susiamiharja secara lebih terang menyatakan bahwa tujuan dari menulis adalah agar tulisan yang dibuat dapat dibaca dan dipahami oleh orang lain yang mempunyai kesamaan pengertian terhadap bahasa yang dipergunakan.

2. Jenis-Jenis Tulisan

Menurut Semi terdapat empat bentuk pengembangan tulisan yaitu narasi, deskripsi, eksposisi, dan argumentasi. Sementara itu, Keraf (1981: 6-7) membagi karangan atau wacana menjadi lima jenis berdasarkan tujuan umum yang tersirat dibalik wacana tersebut, yaitu eksposisi, argumentasi, persuasi, deskripsi, dan narasi.

a. Narasi

Menurut Semi narasi merupakan bentuk tulisan yang bertujuan menceritakan rangkaian peristiwa atau pengalaman manusia berdasarkan perkembangan karangan dan tulisan yang bersifat menyejarah sesuatu berdasarkan perkembangan dari waktu ke waktu. Narasi mementingkan urutan kronologis suatu peristiwa, kejadian, dan masalah. Narasi bisa berisi fakta, bisa pula fiksi atau rekaman yang direka-reka atau dikhayalkan oleh pengarangnya saja yang berbentuk fakta contohnya biografi, autobiografi, kisah-kisah sejati. Sedangkan yang berbentuk fiksi antara lain novel, cerpen, cerbung.

b. Deskripsi

Deskripsi adalah suatu bentuk karangan yang hidup dan berpengaruh. Karangan deskripsi berhubungan dengan pengalaman pancaindera seperti penglihatan, pendengaran, perabaan, penciuman, dan perasaan. Deskripsi memberikan suatu gambaran tentang suatu peristiwa atau kejadian dan masalah. Untuk menulis suatu deskripsi yang baik seseorang pengarang harus dekat kepada objek dan masalah dengan semua pancaindera.

c. Eksposisi

Eksposisi merupakan tulisan yang bertujuan menjelaskan atau memberikan informasi tentang sesuatu. Dalam hal wacana eksposisi, yang dipaparkan itu adalah buah pikiran atau ide, perasaan atau pendapat penulisnya untuk diketahui orang lain. Oleh karena itu, terlebih dahulu haruslah ada suatu hal, suatu buah pikiran, atau suatu isi hati, atau suatu pendapat yang akan kita ungkapkan.

d. Argumentasi

Argumentasi merupakan satu bentuk karangan eksposisi yang khusus. Pengarang argumentasi berusaha untuk meyakinkan atau membujuk pembaca atau pendengar untuk percaya dan menerima apa yang dikatakan, dalam hal ini selalu membutuhkan pembuktian dengan objektif dan menyakinkan. Pengarang dapat mengajukan argumennya berdasarkan 1) contoh-contoh, 2) analogi, 3) akibat ke sebab, 4) sebab akibat dan 5) pola-pola deduktif.

e. Persuasi

Persuasi merupakan bentuk tulisan ynag menyimpang dari argumentasi. Hal ini disebabkan dalam persuasi terdapat usaha untuk membujuk dan menyakinkan pembaca didasarkan pada kelogisan pembuktian fakta-fakta yang disajikan.

3. Hakikat Deskripsi

Deskripsi berasal dari kata decription yang berarti uraian atau lukisan. Arti deskripsi menurut Keraf (1981: 93) merupakan sebuah bentuk tulisan yang bertahan dengan usaha para penulis untuk memberikan perincian-perincian dan objek yang sedang dibicarakan. Kata deskripsi berasal dari kata Latin describera yang berarti menulis tentang atau membeberkan sesuatu hal, sebaliknya kata deskripsi dapat diterjemahkan menjadi pemerian yang berasal dari kata peri-memerikan yang berarti melukiskan sesuatu hal. Hal yang sama juga diungkapkan oleh Sumarlam wacana deskripsi pada dasarnya berupa rangkaian tuturan yang memaparkan atau melukiskan sesuatu baik berdasarkan pengalaman maupun pengetahuan penuturnya. Tujuan yang ingin dicapai oleh wacana ini adalah tercapainya pengalaman yang agak imajinatif terhadap sesuatu, sehingga pembaca atau pendengar merasa seolah-olah ia mengalami atau mengetahuinya secara langsung.

Sedangkan dalam Menulis Efektif deskripsi adalah tulisan yang tujuannya memberikan perincian atau detail tentang objek sehingga dapat memberi pengaruh pada sensitivitas dan imajinasi pembaca atau pendengar. Bagaimana mereka ikut melihat atau mendengar merasakan atau mengalami sendiri secara langsung objek tersebut. Interpretasi penulis dalam wacana deskripsi sangat kuat pengaruhnya. Kemunculan wacana deskripsi hampir selalu menjadi bagian dari wacana yang lain. Objek yang dipaparkan dalam wacana deskripsi misalnya tetang sketsa pemandangan, perwatakan, suasana ruang dll. Semi menyatakan beberapa ciri tanda penulisan atau karangan deskripsi yaitu:

a) Deskripsi lebih berupaya memperlihatkan detail atau perincian tentang objek.

b) Deskripsi lebih bersifat memberi pengaruh sensitivitas.

c) Deskripsi disampaikan dengan gaya memikat dan dengan pilihan kata (diksi) yang

menggugah.

d) Deskripsi lebih banyak memaparkan tentang sesuatu yang dapat didengar, dilihat, dan

dirasakan sehingga objeknya pada umumnya benda, alam, warna, dan manusia.

e) Organisasi penyampaian lebih banyak menggunakan susunan paparan terhadap suatu

detail.

Menurut Keraf (1981: 132-169) wacana dalam bentuk deskripsi dibedakan menjadi dua yaitu:

a. Deskripsi tempat

Deskripsi tempat berdasarkan pada tiga hal yaitu suasana hati, bagian yang relevan, dan urutan kejadiannya. Dalam kaitannya dengan suasana hati yang manakah yang paling menonjol untuk dijadikan landasan. Berkaitan dengan bagian yang relevan penulis deskripsi juga harus mampu memilih detail-detail yang relevan untuk mendapatkan gambaran tentang suasana hati. Sedangkan berkaitan dengan urutan penyampaian, pengarang dituntut pula mampu menetapkan urutan yang paling baik dalam menampilkan detail yang dipilih. Mungkin seorang penulis mengurutkan dari bagian yang tidak penting ke bagian yang penting atau sebaliknya.

b. Deskripsi orang atau tokoh

Untuk mendeskripsikan seorang tokoh dapat dilakukan melalui beberapa cara seperti:

Ø Menggambarkan fisik yang bertujuan memberikan gambaran yang sejelas-jelasnya tentang keadaan tubuh seorang tokoh.

Ø Menggambarkan tindak tanduk seseorang tokoh. Dalam hal ini pengarang mengikuti dengan cermat semua tindak tanduk perbuatan, gerak-gerik sang tokoh. Dari satu tempat ke tempat lain atau dari waktu ke waktu lain.

Ø Menggambarkan keadaan tokoh yang mengelilingi sang tokoh misalnya menggambarkan tentang pakaian, tempat kediaman, kendaraan dsb.

Ø Menggambarkan perasaan dan pikiran tokoh. Hal ini tidak dapat diserap oleh pancaindera manusia. Namun diantara perasaan dan unsur fisik merupakan hubungan yang sangat erat. Pancaran wajah, gerak bibir, pandangan mata dan gerak tubuh merupakan petunjuk tentang keadaan perasaan seseorang pada waktu itu.

Ø Menggambarkan watak seseorang. Aspek perwatakan inilah yang paling sulit dideskripsikan.

Tidak jauh berbeda dengan Keraf, Parera membagi deskripsi secara garis besar menjadi dua yaitu deskripsi eksposition dan deskripsi impresionistik.

1. Deskripsi eksposition

Deskripsi ini pada umumnya bersifat logis, ia disusun seperti satu katalog dalam urutan yang logis, umpamanya orang mendeskripsikan satu gedung tinggi mulai dari bawah ke atas atau dari kiri ke kanan. Pilihan detail-detail untuk menunjukkan ketelitian penginderaan pengarang. Tujuan deskripsi ini ialah memberikan informasi dan menimbulkan pembaca melihat, mendengar, merasakan apa yang dideskripsikan itu.

2. Deskripsi impresionistik

Tujuan deskripsi ini adalah membuat pembaca memancainderakan dan membuat ia bereaksi secara emosional akan apa yang dideskripsikan. Dalam deskripsi ini pengarang ingin mendapatkan jawaban atau reaksi pembaca, maka pertama pengarang harus menentukan dahulu jawaban atau reaksi apa yang ia kehendaki. Akan tetapi ia tidak mempunyai pola untuk mendeskripsikannya dalam urutan logis. Untuk mendapatkan tulisan deskripsi yang baik ada tiga pendekatan yang harus dilakukan oleh penulis yaitu:

1. Pendekatan yang realistis

Dalam pendekatan yang realistis penulis berusaha agar deskripsi yang dibuatnya terhadap objek yang tengah diamati itu harus dapat dilukiskan seobjektif-objektifnya.

2. Pendekatan yang impresionistik

Pendekatan yang berusaha menggambarkan sesuatu secara subjektif. Apa yang dimaksud dengan subjektif sama sekali tidak berarti bahwa pengarang itu membuat seenaknya terhadap detail-detail yang dapat dilihatnya.

3. Pendekatan menurut sikap penulis

Bagaimana sikap penulis terhadap objek yang dideskripsikan itu. Penulis dapat mengambil salah satu sikap berikut; masa bodoh, sungguh-sungguh dan cermat, mengambil sikap seenaknya, atau mengambil sikap bertindak ironis.

4. Pembelajaran Menulis Deskripsi di Sekolah

· Hakikat Belajar dan Pembelajaran

Belajar merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hal atau tujuan, bukan hanya mengingat melainkan juga mengalami. Hasil belajar bukan suatu penguasaan hasil latihan melainkan merupakan perilaku. Belajar sebagai suatu proses yang komplek dan berkesinambungan memiliki unsur-unsur dinamis di dalamnya, antara lain.

è Motivasi Mahasiswa

Motivasi merupakan dorongan seseorang untuk melakukan suatu perbuatan atau tindakan. Motivasi belajar dapat bersumber dari Mahasiswa dan rangsangan dari luar Mahasiswa.

è Bahan Belajar

Bahan belajar merupakan hal yang diajarkan kepada Mahasiswa. Dalam menentukan bahan belajar Dosen harus memperhatikan dan menyesuaikannya dengan tujuan belajar.

è Alat Bantu Belajar

Alat bantu belajar dapat disebut alat peraga atau media belajar. Media belajar merupakan peralatan yang digunakan selama proses belajar supaya proses tersebut dapat berjalan dengan baik.

è Suasana Belajar

Suasana belajar merupakan kondisi yang tercipta selama proses belajar. Suasana sangat mendukung keberhasilan belajar Mahasiswa dan dapat menimbulkan motivasi Mahasiswa.

è Kondisi Subjek Belajar

Kondisi subjek belajar tidak lain adalah Mahasiswa itu sendiri. Kondisi Mahasiswa turut membantu keberhasilan pembelajaran mengingat dalam proses pembelajaran terdapat tiga hal pokok yakni input, proses, dan output.

Sedangkan pembelajaran mengandung arti setiap kegiatan yang dirancang untuk membantu seseorang mempelajari suatu kemampuan atau nilai yang baru. Lebih lanjut menjelaskan bahwa pembelajaran adalah suatu proses dimana lingkungan seseorang secara sengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam tingkah laku tertentu dalam kondisi-kondisi khusus atau menghasilkan sebuah respon terhadap situasi tertentu, pembelajaran merupakan subjek khusus dari pendidikan.

Sementara itu, karakteristik pembelajaran dibagi menjadi dua sebagai berikut:

1. Dalam proses pembelajaran melibatkan proses mental Mahasiswa secara maksimal, bukan hanya menuntut Mahasiswa sekedar mendengarkan, mencatat, akan tetapi menghendaki aktivitas Mahasiswa dalam proses berpikir.

2. Dalam pembelajaran dibangun suasana dialogis dan proses tanya jawab terus-menerus yang diarahkan untuk memperbaiki dan meningkatkan kemampuan berpikir Mahasiswa, yang pada gilirannya kemampuan berpikir itu dapat membantu memperoleh pengetahuan yang mereka konstruksikan sendiri.

· Tujuan Pembelajaran Bahasa Jerman

Tujuan merupakan hal esensial dan harus ada dalam sebuah kegiatan, termasuk dalam pembelajaran bahasa Jerman. Tujuan akan memberikan peranan yang kuat bagi Dosen dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Secara umum tujuan pembelajaran bahasa Jerman berdasarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang tercantum dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) sebagai berikut:

1. Peserta didik menghargai bahasa Jerman sebagai bahasa Asing yang membawa perubahan mutu kualitas bangsa dan negara dalam hal bahasa.

2. Peserta didik memahami bahasa Jerman dari segi bentuk, makna, dan fungsi serta menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk bermacam-macam tujuan, keperluan, dan keadaan.

3. Peserta didik memiliki kemampuan intelektual, kematangan emosional, dan kematangan sosial.

4. Peserta didik memiliki disiplin dalam berpikir dan berbahasa (berbicara dan menulis).

5. Peserta didik mampu menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan kehidupan, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa.

6. Peserta didik menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khasanah budaya dan intelektual manusia Jerman.

· Pembelajaran Menulis

Dalam pembelajaran menulis guru harus dapat membuat siswa mampu mengungkapkan gagasan yang terdapat dalam benaknya dalam bentuk tulisan dengan menggunakan tanda baca, struktur ejaan yang benar, serta kalimat yang runtut yang akan menghasilkan paragraf yang baik. Nababan menyatakan bahwa pembelajaran menulis dapat dirancang dengan aktivitas sebagai berikut:

1. Menjalin suatu bacaan atau dialog dalam bahasa target secara harfiah tanpa kesalahan.

2. Mengarang dengan bantuan gambar.

3. Menulis tabel pengganti unsur dalam arti yakni analogi dari kalimat dan unsur rangsangan dari Dosen

4. Guru memberi respon atau jawaban pada ucapan pembicaraan yang belum ada (kosong) siswa menjawab dengan memilih ucapan mana dan situasi apa yang cocok dengan respon tersebut.

5. Mengisi atau menyelesaikan dialog yang diberikan guru.

6. Mengalihkan informasi dari satu bentuk ke bentuk lain.

7. Guru memberikan tugas sederhana kepada siswa.

· Pembelajaran Menulis Deskripsi

Sebagai suatu keterampilan berbahasa, menulis merupakan suatu aspek yang harus diajarkan kepada Mahasiswa Semester IIyang terangkum dalam mata kuliah Schreibtfertigkeit II.

· Penilaian Menulis Deskripsi

Penilaian yang dilakukan pada karangan siswa biasanya bersifat holistik, impresif, dan selintas. Maksudnya adalah penilaian tersebut bersifat menyeluruh berdasarkan kesan yang diperoleh dari pembaca karangan secara selintas. Dosen cenderung melakukan penilaian yang bersifat analisis karena guru memerlukan penilaian secara lebih objektif dan terinci mengenai kemampuan siswa untuk keperluan diagnosik-edukatif (yang dikutip dari Nurgiantoro)

Penilaian yang bersifat holistic memang diperlukan. Akan tetapi, agar Dosen dapat menilai secara lebih objektif dan dapat memperoleh informasi yang lebih terinci tentang kemampuan siswa untuk keperluan diagnostic-edukatif, penilaian hendaknya sekaligus disertai dengan

penilaian yang bersifat analitis (yang di kutip dari Website, Zainal Machmoed dalam Nurgianto: 2001: 305).

BAB III

Penutup

1. Kesimpulan

Kegiatan berbahasa yang produktif adalah kegiatan menyampaikan gagasan, pikiran, atau perasaan oleh pihak penutur. Sebenarnya kegiatan produktif terdiri dari dua macam yaitu berbicara dan menulis. Meskipun sama-sama merupakan kegiatan produktif, kegiatan tersebut mempunyai perbedaan yang utama, yaitu pada media dan sarana yang digunakan. Berbicara menggunakan sarana lisan, sedangkan menulis menggunakan sarana tulisan. Mahasiswa belum mampu mengidentifikasikan sebuah peristiwa atau pun gambaran yang ada dalam pikiran masing-masing untuk dirangkai ke dalam bentuk tulisan atau dalam kata lain Mahasiswa kurang dapat menggali ide dan gagasan. Menulis hasil observasi dalam bentuk paragraf deskripsi Selama ini pembelajaran menulis deskripsi dilakukan secara konvensional. Sumber belajar di luar Dosen yang dapat dimanfaatkan oleh Mahasiswa yaitu buku Teks dan Media Internet.

Dosen harus menggunakan teknik pembelajaran yang bervariasi secara kreatif. Dosen membuat berbagai solusi dalam pembelajaran menulis salah satunya pada penggunaan metode. Penelitian tentang peningkatan keterampilan menulis dengan menggunakan metode field trip dilakukan karena melihat kondisi Mahasiswa dalam menerima materi menulis belum sesuai dengan harapan. Selain itu, peneliti beranggapan metode pengajaran dan pembelajaran yang digunakan oleh Dosen dengan metode ceramah dan media contoh-contoh belum mengalami perubahan terhadap hasil pekerjaan Mahasiswa dalam menulis. Masalah lain yang muncul Mahasiswa akan berpersepsi negativ terhadap materi menulis, karena metode dan media yang digunakan terkesan membosankan dan membingungkan.

2. Saran

Makalah ini memaparkan bagaimana cara penggunaan Metode Field Trip untuk meningkatkan kemampuan menulis dalam bidang studi bahasa jerman yang mengambil matakuliah Schreibtfertigkeit (kemampuan menulis). Oleh karena itu, penulis berharap semoga makalah ini dapat menambah wawasan atau pengetahuan tentang Penggunaan Metode Field Trip secara umum dan kepada pembaca secara khusus para calon guru. Diharapkan juga makalah ini dapat menambah perbendaharaan makalah-makalah yang sudah ada tentang Field Trip sehingga dapat melengkapi antara satu dengan yang lain.

Daftar Pustaka

http:www.essayinfo.com/essays/narative_essays.php

http:www.rain.org/esl/-teaching-listening-comprehend.html

Keraf, G.1985. Argumentasi dan Narasi. Jakarta: P.T Gramedia.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment